“kamu mau kan memberikan aku sedikit ruang
dihatimu?” Edo tersenyum setelah beberapa kali mencoba mengingatkan aku dengan
hal-hal kecil yang pernah aku lakukan bersamanya.
“bagaimana dengan Rendy?” pikiranku mulai
begejolak lagi. Antara pergi atau tetap bersama dengan Rendy, lelaki yang dua
tahun ini bersamaku. Dihadapanku kini berdiri sosok lelaki, dengan lembut dan
senyum hangat yang selalu dia tawarkan untukku. Kali ini dia membiarkan aku
untuk berpikir sejenak.
“Jadi gimana?” Edo membuyarkan lamunanku.
“Hmm..aku perlu waktu untuk ini. Aku ngga bisa
memutuskan rendy gitu aja. Aku sayang dia.” Kataku.
Edo hanya diam, dia tau persis bagaimana aku
sangat menyayangi rendy.Kemudian hanya bisa menghela napas.
“Hhh,,baiklah. Kalau itu memang pilihanmu. Aku
ngga akan bisa memaksa.” Dia tersenyum. “Aku sudah menunggu sampai selama
ini.kamu tau kan?aku hanya berharap pilihan kamu tidak salah. Kalau ini yang
terbaik, baiklah aku pergi saja. “ Dia masih tersenyum dengan lembut. Seperti
ingin mencoba mengatakan dengan bahasa tubuhnya bahwa “hei, aku baik saja”.
Tapi, aku tau persis dia. Dia tidak seperti
ini. Dan jika ini terjadi padanya.Itu berarti dia sangat kecewa.
“Maafin aku,do” aku hanya menunduk.
“Ga papa!kamu tau kan kadang aku memang seperti
ini. Sudahlah..kenapa kamu yang bersedih. Kan harusnya aku yang seperti
itu,bukan kamu” Dia mencoba membuat aku untuk tidak merasa bersalah. Senyumnya
selalu mengembang, memberikan ketenangan tersendiri untukku.
Aku diam..
“Tapi,sesekali boleh kan aku menengok kamu
sebagai masalaluku?”kataku tiba-tiba
“Masa lalu?” Edo mengerutkan keningnya. Heran. “hahaha..bahkan
bagiku, kamu adalah masa depanku yang tertunda, Na” kata Edo. Kemudian dia
tertawa dengan renyah.
Aku hanya tersenyum.
“Kamu boleh menguhubungiku kapan saja kamu mau,
aku selalu ada. Bahkan disaat kamu tidak menginginkan aku ada disampingmu. Aku
selalu ada.”katanya..
to be continue..
to be continue..


0 komentar:
Posting Komentar
Jangan lupa tinggalkan jejakmu di sini..:)